h1

galang rambu anarki – iwan fals,, sebuah kecintaan terhadap seorang putra

March 15, 2009

iwanfalsmatadewa1KETIKA Galang lahir pada 1 Januari 1982 si bapak, yang perasaannya campur-aduk karena pertama kali merasakan diri jadi ayah—merasa harus bertanggung jawab, merasa mencintai, heran, bahagia, bangga punya keturunan dan sebagainya—menciptakan lagu berjudul Galang Rambu Anarki. Lagunya cukup terkenal dan masuk album Opini (1982).
Galang tumbuh jadi anak cerdas. Endi Aras sering main tembak-tembakan dengan Galang. Muhamad Ma’mun punya karakter rekaan yang sering diceritakannya pada Galang. Namanya “Gringgrong”—seorang jagoan “kayak Tarzan” yang bisa mengalahkan harimau, naik kuda, dan mengalahkan musuh. Tiap kali Ma’mun datang menginap, cerita Gringgong ditagih Galang. Di Condet hanya ada dua kamar, “Kalau saya nginep, Galang tidur sama bapaknya,” kata Ma’mun.
Ketika beranjak remaja, Ma’mun melihat Galang badannya bagus, berbentuk. Galang bukan tipe anak hura-hura. Kalau minta uang paling buat bayar taksi pergi ke sekolah. “Untuk beli-beli dia nggak punya uang,” kata Iwan. Galang juga besar tekadnya. Suatu saat Galang, yang belum bisa menyetir mobil dan tak punya surat izin mengemudi, ingin bisa mengendarai mobil. Solusinya? Galang mengendarai mobil sekaligus dari Jakarta ke Pulau Bali!
Tapi kekerasan Galang suatu hari membuat Iwan angkat tangan. Dia datang ke Ma’mun, “Mas gimana nih, Galang nggak mau sekolah lagi?”
“Terus maunya apa?”
“Embuh, main musik atau buka bengkel.”
Galang memutuskan keluar dari SMP Pembangunan Jaya di Bintaro, yang terletak dekat rumah dan termasuk salah satu sekolah mahal di Jakarta. Iwan sering pindah rumah dan waktu itu tinggal di Bintaro. Hingga Leuwinanggung ia sudah pindah rumah 12 kali. Usia Galang 14 tahun dan sedang memproduksi rekamannya yang pertama bersama kelompok Bunga. Iwan tak bisa berbuat banyak dan membiarkan Galang putus sekolah.
Galang pernah juga kabur meninggalkan rumah. Dalam pelarian, menurut Iwan, Galang melihat poster dan foto papanya di mana-mana. “Dia merasa diawasi,” kata Iwan. Galang merasa tak bisa lari dan kembali ke rumah.
Suatu saat Iwan curiga. Iwan bertanya, “Lang, lu pakai ya?”
“Mau apa tahu Pa?” kata Galang, ditirukan Iwan.
Iwan menganggap dirinya sudah insyaf. Kok Galang yang memakai? Iwan merasa Galang meniru papanya. Mula-mula rokok lalu obat. Endi Aras mengatakan Iwan agak teledor kalau menyimpan ganja atau merokok.
Galang menerangkan dia hanya mencoba. Rasanya pusing serta teler. “Ya udah, kalau sudah tahu ya udah,” kata Iwan.
Kebetulan Galang punya pacar, seorang cewek gaul bernama Inne Febrianti, yang juga keberatan Galang memakai obat-obatan. Inne mendorong Galang tak memakai obat-obatan.
“Dia bukan pemakai. Dia sangat cinta pada keluarganya. Kontrol diri sangat kuat,” kata Iwan.
Kamis malam 24 April 1997 sekitar pukul 11:00 malam Galang pulang ke rumah, setelah latihan main band. Dia makan lalu pamit pada papanya mau tidur. Mamanya lagi tak enak badan. Iwan masih mendengar Galang telepon-teleponan.
Subuh sekitar 4:30 Kelly Bayu Saputra, sepupu Galang yang tinggal di sana, mau mengambil sisir di kamar Galang. Kelly memanggil Galang tapi tak bangun. Kelly mendekati Galang dan menggoyang-goyangkan badannya. Lemas. Kelly kaget. Dia mengetuk kamar Yos. Yos bangun dan menemukan Galang badannya dingin. “Saya turun ke bawah, panggil Iwan,” kata Yos.
Keluarga heboh. Iwan terpukul sekali. Pagi itu saudara-saudaranya datang. Mereka menghubungi semua kerabat dan teman. Leo Listianto, adik Iwan, menelepon Ma’mun di Karawaci. “Saya masih tidur, antara percaya, tidak percaya,” kata Ma’mun.
Sepuluh menit kemudian, Ma’mun ditelepon Dyah Retno Wulan, adiknya Leo, biasa dipanggil Lala, juga memberitahu Galang meninggal. “Saya bengong,” kata Ma’mun. Dia segera menuju Bintaro.
Fidiana menerima telepon dari Ari Ayunir. Fidiana membangunkan Iwang Noorsaid, suaminya, “Wang, ini ada berita duka … Galang meninggal.” Mereka agak tak percaya karena beberapa hari sebelumnya pasangan ini bertamu ke Bintaro dan melihat Galang mondar-mandir. Mereka mencoba telepon ke Bintaro tapi nada sibuk. Mereka menelepon Herri Buchaeri, Endi Aras, dan beberapa rekan lain sebelum naik mobil ke Bintaro.
Endi Aras mengatakan, “Pagi-pagi aku dapat kabar. Iwang Noorsaid yang telepon.” Endi sampai di Bintaro sekitar pukul 5:30. “Aku ikut memandikan (jasad Galang),” kata Endi.
Ketika Iwan memandikan jasad anaknya, dia berujar berkali-kali, “Galang, kamu sudah selesai, Papa yang belum … Lang, kamu sudah selesai, Papa yang belum ..…” Kalimat itu diucapkan Iwan berkali-kali.
Ma’mun dirangkul Iwan. “Jagain Mas, jagain anak-anak Mas,” kata Iwan, seakan-akan hendak mengatakan ia sendiri kurang menjaga anaknya dengan baik.
“Yos histeris, menangis ketika saya peluk. ‘Aduh, anak saya sudah meninggal mendahului saya,’” kata Fidiana. Iwan tak banyak bicara, menunduk, menangis, dan hanya bilang “terima kasih” kepada tamu-tamu. “Kepada kita dia nggak ngomong sama sekali,” kata Fidiana.
Galang dimakamkan di mana? Ada usul pemakaman Tanah Kusir dekat Bintaro. Iwan emosional, ingin memakamkan Galang di rumahnya. Bagaimana aturannya? Iwan pun memutuskan menelepon kyai Abdurrahman Wahid alias Gus Dur dari Nahdlatul Ulama. Saat itu Gus Dur belum jadi presiden Indonesia. Iwan menganggap Gus Dur “guru mengaji” yang terbuka, tempat orang bertanya. Gus Dur mengerti hukum Islam maupun hukum pemerintahan.
Gus Dur dalam telepon menjelaskan dalam aturan Islam diperbolehkan memakamkan jenazah di rumah. Pemakaman bergantung wasiat almarhum atau keinginan keluarga. Tapi di Jakarta tak bisa memakamkan orang di rumah sendiri karena keterbatasan lahan. “Di Jakarta nggak boleh … kalau Bogor boleh.”
Kata “Bogor” itu mengingatkan Iwan pada Leuwinanggung. Keluarga pun memutuskan Galang dimakamkan di Leuwinanggung.
Menurut Harun Zakaria, seorang tetangga Iwan di Leuwinanggung, yang juga menjaga kebun Iwan, dia dihubungi Lies Suudiyah, ibunda Iwan. “Bu Lies datang ke sini. Dia bilang, ‘Cucunda meninggal. Tolong di sini kuburannya,” kata Harun.
Jenazah disemayamkan dulu di masjid Bintaro. Sekitar 2.000 jamaah salat Jumat di masjid itu ikut menyembahyangkan Galang. Banyak seniman, tetangga, kenalan Iwan, dan Yos datang menyampaikan duka. Setiawan Djody, W.S. Rendra, Ayu Ayunir, Jalu, Totok Tewel, Jockie Suryoprayogo, juga tampak di sana. Spekulasi wartawan maupun pengunjung memunculkan gosip bahwa dada Galang kelihatan biru. Galang digosipkan overdosis. Ini merambat ke mana-mana karena tubuh Galang kurus ceking.
Orang sebenarnya tak tahu persis penyebab kematian Galang karena tak ada otopsi terhadap jenazahnya. Kawan-kawan Iwan memilih diam. Mereka merasa tak nyaman mengecek spekulasi overdosis kepada orangtua yang berduka. Kresnowati pernah diberitahu Yos bahwa penyebab kematian Galang penyakit asma. Fidiana mengatakan beberapa hari sebelum kematian, Yos mengatakan Galang lagi sakit-sakitan. Iwan mengatakan pada saya, fisik Galang “agak lemah” dan “Galang lemah di pencernaan.”
Namun Iwan dan Ma’mun menyangkal spekulasi overdosis. Galang memang mencoba obat-obatan tapi tak serius. Iwan mengatakan dua bulan sebelum meninggal, Galang “sudah bersih.” Iwan percaya anaknya punya kontrol diri.
Menurut teman-temannya, Yos menilai petualangan Galang merupakan protes terhadap Iwan. Galang butuh perhatian papanya tapi Iwan terlalu sibuk. Yos di mata mereka lebih tabah menghadapi kematian Galang. Iwan lebih terpukul dan menyesal. “Setelah Galang meninggal, dia sudah nggak nggelek-nggelek. Salatnya sudah rajin,” kata Endi Aras.
September lalu di keheningan Leuwinanggung, saya tanyakan pada Iwan bagaimana perasaannya sekarang, lima tahun setelah kematian Galang.
Dia menggeser posisi duduknya dan mengatakan, “Sampai sekarang masih ngimpi, terutama zaman manis-manisnya ketika Galang masih kecil.”
Iwan mengatakan kalau bercermin pada masa-masa ketika Galang masih ada, dia melihat kekurangan-kekurangannya sebagai suami maupun ayah. “(Kematian Galang) membuat saya menghargai fungsi bapak, fungsi suami. Kalau saya dulu bisa lebih bersahabat, jadi gurunya, jadi lawannya, mungkin akan lain ceritanya.”
“Tapi ini semua nggak bisa dibalik.”
Diambil hikmahnya, Iwan bercerita bahwa kematian Galang jadi “api” buat dirinya dalam bermusik.
“Dia pilih musik, bahkan dia keluar sekolah. Dia mau menikah waktu itu. Dia percaya musik bisa menghidupi istrinya. Masakan saya nggak berani … rasanya di sini senep (sesak) … hoooaah … dari sini senep … apalagi kalau kenangan-kenangan itu datang,” kata Iwan. Dia tiba-tiba berteriak, “Hoooooooaaaaah ….”
Saya mengalihkan pandangan mata saya dari mata Iwan. Dia menelungkupkan kedua tangannya di dada. Kami diam sejenak. Saya minta maaf karena mengingatkannya pada kematian Galang. Iwan bilang tak apa-apa. “Kadang-kadang kalau lagi sedih … senep. Tapi kalau lagi senang ya lupa lagi.”

h1

jualan jualan jualan

March 11, 2009

berdagang,,, ini kata yg apaling favorit buat saya, tapi jadi kegiatan paling menantang juga untuk dilaksanakan. harus putar otak berkali-kali dan harus jatuh bangun juga berkali-kali. menjadi seorang manajer itu ternyata butuh banyak keberanian dan totalitas yg lebih untuk menjadi seorang entreuprener sejati. udah capek kerja dibawah orang lain, mulai dari EO, sales promotion boy, WO, sampe pembuatan seminar edukatif. huhh,,, ga ada kata menyerah sih, berkorban ratusan ribu, mungkin juga uda jutaan tapi masih belum kapok juga. hehehe

sekarang, dengan adanya mata kuliah entreuprener, baru kelihatan kalau menjadi seorang manajer itu ternyata *&%*$*% (it mean *&*$^$) hahaha..

tapi,, tidak akan menyerah!!!

saya tawarkan proyek “house of baby”, proposal lengkap, dengan perincian dibidang operasi, finance, HR (sumber daya manusia), dan marketing. jual kalung2an cewe2an juga, jual lulur2an buat cewe, lulur2an dari bali, etc. apa yg bisa di jual lah. sama ngejual jasa diri untuk berkonsep maupun dijadiin SPB lagi.. sedih banget yak..kusmanto-2008-kate-140x140-oc

h1

pendekatan pengaruh dan wewenang dalam kehidupan pribadi

January 1, 2009

pengaruh dan wewenang merupakan 2 hal yang berbeda, dimana masing-masing kata tersebut memiliki makna yang berbeda. pengaruh merupakan media pendekatan kepada orang lain dengan menggunanakan aspek-aspek normatif dan kharismatik yang dirancang secara natural oleh akal dan pikiran kita. ketika kita menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam sebuah pergaualan, maka hal apapun yang kita lakukan akan menjadi tren dalam pergaualan tersebut. kita dapat menggunakan pengaruh sebagai motivator, guru, bahkan bos bagi pergaulan di sekitar kita. tentunya kita memanfaatkan keadaan tersebut secara positif dan tidak akan mempergunakannya untuk kegiatan berarah negatif. saat pengaruh itu timbul, akan hadir rasa respect yang besar dari anggota komuniti dimana akan terjadi pendekatan kekeluargaan yang lebih menghangatkan dari pada sekedar mengatasnamakan wewenang seseorang.
berbeda dengan pengaruh, wewenang sendiri merupakan sebuah jobdesk yang harus dikerjakan dan harus di patuhi oleh komuniti sekitar. misalnya wewenang kita sebagai pemimpin suatu kelompok adalah menugaskan anggota kelompok kita untuk mengerjakan setiap job desk yang di berikan. wewenang lebih bersifat berandil besar dalam mengarahkan suatu pekerjaan. wewenang lebih miilki taji dalam menggerakkan roda organisasi, disamping di dukung kemampuan yang lebih dari para peserta komuniti, wewenang yang diberikan juga memiliki responsibility yang besar. dimana orang yang memegang wewenang adalah orang yang memegang seluruh tanggung jawab kegiatan tersebut.
pengaruh tanpa wewenang bukan merupakan suatu masalah. namun wewenang tanpa pendekatan pengaruh yang baik akan menjadi bencana bagi si pemegang wewenang. ketika pemegang wewenang kurang berpengaruh untuk mensupport anggota komunitinya, hal ini akan mengakibatkan kurangnya sikap respect dan kemauan untuk bekerja lebih keras dalam kelompoknya. ketika pengaruh itu hilang, akan timbul kebencian dan perang dingin dalam sebuah kelompok, ketika pengaruh itu hilang akan terjadi chaos disana dini dan bisa-bisa terjadi pergerakan yang separatis dan akan berakibat pemecatan pada pemegang wewenang.
lakukanlah pendekatan pengaruh pada setiap wewenang yang kita dapatkan. insyaallah akan tercapai hasil yang maximal dan suasana kerja yang nyaman. bukankah jika dalam suatu organisasi tercipta sebuah struktur kekeluargaan akan meningkatkan kenyamanan bagi anggota kelompoknya yang akan memebrikan citra positif bagi anggota kelompok tersebut dan timbul rasa saling memiliki dan mencintai untuk dapat saling tolong mnolong dan mampu membri masukkan secara positif dan benar untuk kemajuan sebuah organisasi. benar tidak?

h1

mahasiswa dalam kehidupan bernegara

December 4, 2008

politik. kata ini pasti tidak akan asing di telinga para mahasiswa indonesia. dari zaman ke zaman mahasiswa indonesia selalu aktif mengikuti pergulatan politik di negeri ini yang masih di anggap carut marut oleh sebagian mahasiswa kritis saat ini. pendiri sumpah pemuda adalah sekelompok pemuda yang berkategori mahasiswa, perancang kemerdekaan juga berasal dari mahasiswa, pegolakan di tahun 1968, 1987,1997 dan tahun-tahun berikutnya juga selalu di sebut nama “mahasiswa”. betapa agungnya nama ini, hingga terus diperhitungkan. dengan skala yang sangat besar dan dengan potensi yang besar pula, mahasiswa telah menjadi basis perlawanan terhadap negara. namun di tunjang juga dengan sikap aktif dalam dunia pendidikan.

mahasiswa dalam kehidupan bernegara, harusnya menjadi instrumen nyata pemerhati kegiatan politik dalam suatu negara. harusnya mahasiswa mampu mendengar dan menyampaiakn dengan baik dan benar apa yang ingin disampaikan oleh rakyat jelata kepada pemerintah dengan penyampaian seorang intelektual yang berpikiran jernih dengan hati yang tenang. bukannya malah menciptakan kebencian dari masyarakat kepda mahasiswa seperti belakangan ini. lebih banyak aksi seporadis dari pada aksi damai yang terjadi, apakah ini merupakan efek kurangnya pamahaman oleh mahasiswa terhadap masalah yang ada di negeri ini? atau selama ini aksi-aksi yang terjadi tidak terkontrol dengan baik, seperti yang di lakukan oleh seorang Soe Hok Gie di tahun 1966 dimana ia menyampaikan gagasannya untuk melakukan aksi damai di jakarta walaupun berakhir dengan tragis.

peristiwa 1996-1998 dijakarta juga mengindikasi hal serupa yang dilakukan oleh Soe Hok Gie dan teman-teman di era lampau. mulai dari aksi damai, hingga emosi yang tak tertahankan dari mahasiswa dan akhirnya terjadi pergolakan yang menewaskan beberapa orang sahabat mahasiswa dan beberapa korban polisi juga. dan pada akhirnya kita kembali kepada itikad kita sebagai mahasiswa, terpelajar, berbudu luhur yang baik, kritis dan mampu meredam aksi masyarakat dengan jalan berdiskusi dan aksi damai, NAMUN, jika tidak direspon aksi-aksi separatis mungkin juga perlu di lakukan. karena pemerintah tidak akan pernah terusik oleh permintaan rakyatnya sebelum rakyatnya benar-benar menderita dan benar-benar kalap sehingga tercipta chaos yang benar-benar parah si negeri ini.

teruskan perjuangan kita para mahasiswa, namun perlu di ingat tugas utama kita adalah BELAJAR, BELAJAR dan BELAJAR, yang kedua, BERORGANISASI, yang ketiga, BERBICARA, dan yang keempat BERGAUL DENGAN UMAT SELURUH DUNIA untuk menambah wawasan tentunya.

salam MAHASISWA INDONESIA!!

h1

pendekatan pengaruh dan wewenang dalam kehidupan pribadi

December 4, 2008

pengaruh dan wewenang merupakan 2 hal yang berbeda, dimana masing-masing kata tersebut memiliki makna yang berbeda. pengaruh merupakan media pendekatan kepada orang lain dengan menggunanakan aspek-aspek normatif dan kharismatik yang dirancang secara natural oleh akal dan pikiran kita. ketika kita menjadi orang yang sangat berpengaruh dalam sebuah pergaualan, maka hal apapun yang kita lakukan akan menjadi tren dalam pergaualan tersebut. kita dapat menggunakan pengaruh sebagai motivator, guru, bahkan bos bagi pergaulan di sekitar kita. tentunya kita memanfaatkan keadaan tersebut secara positif dan tidak akan mempergunakannya untuk kegiatan berarah negatif. saat pengaruh itu timbul, akan hadir rasa respect yang besar dari anggota komuniti dimana akan terjadi pendekatan kekeluargaan yang lebih menghangatkan dari pada sekedar mengatasnamakan wewenang seseorang.

berbeda dengan pengaruh, wewenang sendiri merupakan sebuah jobdesk yang harus dikerjakan dan harus di patuhi oleh komuniti sekitar. misalnya wewenang kita sebagai pemimpin suatu kelompok adalah menugaskan anggota kelompok kita untuk mengerjakan setiap job desk yang di berikan. wewenang lebih bersifat berandil besar dalam mengarahkan suatu pekerjaan. wewenang lebih miilki taji dalam menggerakkan roda organisasi, disamping di dukung kemampuan yang lebih dari para peserta komuniti, wewenang yang diberikan juga memiliki responsibility yang besar. dimana orang yang memegang wewenang adalah orang yang memegang seluruh tanggung jawab kegiatan tersebut.

pengaruh tanpa wewenang bukan merupakan suatu masalah. namun wewenang tanpa pendekatan pengaruh yang baik akan menjadi bencana bagi si pemegang wewenang. ketika pemegang wewenang kurang berpengaruh untuk mensupport anggota komunitinya, hal ini akan mengakibatkan kurangnya sikap respect dan kemauan untuk bekerja lebih keras dalam kelompoknya. ketika pengaruh itu hilang, akan timbul kebencian dan perang dingin dalam sebuah kelompok, ketika pengaruh itu hilang akan terjadi chaos disana dini dan bisa-bisa terjadi pergerakan yang separatis dan akan berakibat pemecatan pada pemegang wewenang.

lakukanlah pendekatan pengaruh pada setiap wewenang yang kita dapatkan. insyaallah akan tercapai hasil yang maximal dan suasana kerja yang nyaman. bukankah jika dalam suatu organisasi tercipta sebuah struktur kekeluargaan akan meningkatkan kenyamanan bagi anggota kelompoknya yang akan memebrikan citra positif bagi anggota kelompok tersebut dan timbul rasa saling memiliki dan mencintai untuk dapat saling tolong mnolong dan mampu membri masukkan secara positif dan benar untuk kemajuan sebuah organisasi. benar tidak?

h1

bekerja lebih pintar bukan lebih keras

December 4, 2008

dalam setiap kegiatan yang kita lakukan acap kali kita merasa telah melakukan lebih dari hasil yang kita lihat. hal ini dikarenakan kita terlalu memfokuskan diri pada tenaga yang kita keluarkan, dengan satu ide inti dan ribuan tetesan keringat kita merasa kerja kita telah maximal. namun kenyataannya berbeda, kegiatan yang kita lakukan akan terasa lebih ringan apabila kita mencari 1001 cara untuk meringankannya. bukankah untuk mempermudah jaringan komunikasi, ada orang yang telah menciptakan telepon dan telepon selular? itu adalah hal pintar, dari pada berkirim surat atau harus mengujungi setiap saat hanya untuk menyampaikan pesan.

jadi, simpanlah tenaga anda sebesar-besarnya, dan alokasikan untuk berpikir, berpikir, dan berpikir. senantiasa anda akan terbiasa untuk berpikir mencari kemudahan dan melaksanakannya dengan senang hati, maka anda akan dapat tidur nyenyak dengan tenang tanpa memikirkan pekerjaan hari esok selanjutnya.

salam sukses mahasiswa!!

h1

Hello world!

December 3, 2008

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!